Oleh: Muhasinul Umam
Setiap orang dilahirkan dengan membawa tipe kejiwaan yang unik, menarik, dan berbeda dari lainnya. Dengan mengenali corak kepribadian kita sendiri, kita bisa mengambil petuah dari sahabat dengan tetap menjadi diri kita.
Dengan mengetahui watak dasar kita, setiap potensi yang ada bisa kita keluarkan dan setiap kekurangan bisa kita benahi. Selain itu, kita juga akan mengetahui mengapa teman-teman kita memiliki sifat dan pandangan berbeda dalam kesehariannya.
Kita adalah makhluk sosial, karena itu watak dan tingkah laku kita banyak dipengaruhi oleh yang lain. Pengelompokan tipe kepribadian yang diajukan Hiprocates 2400 tahun yang lalu pun didasarkan atas dominasi salah satu watak. Berikut ini kita akan diajak mengenali karakter kepribadian kita. Tanyakan pada diri kita, saudara kita, atau sahabat kita berkaitan dengan butir pernyataan yang akan dilampirkan. Pilih salah satu sub nomor dalam setiap satuan nomor yang ada yang berkenaan dengan kepribadian kita.
Keunggulan
1.-Animated. Senang berekspresi dengan memakai bahasa tubuh.
-Adventurous. Berani melakukan hal yang baru.
-Analitycal. suka mengkaitkan kejadian yang ada.
-Adaptable. Senang dalam setiap situasi.
2.-Playful. Penuh kesenangan dan selera humor.
-Persuasive. Meyakinkan orang dengan logika dan fakta, bukannya pesona atau
kekuasan.
-Persistent. Menuntaskan suatu masalah sebelum memulai yang lainnya.
-Peaceful. Tenang, menghindari setiap kekacauan.
3.-Convincing. Merebut hati dengan kepribadiannya.
-Competitive. Mengubah setiap situasi menjadi kontes.
-Considerate. Menghargai keperluan orang lain.
-Controlled. Jarang tampak rasa emosionalnya.
4.-Promoter. Mempesona orang lain ikut bergabung.
-Positive. Mengetahui semuanya akan beres kalau dia yang memimpin.
-Planner. Suka membuat rancangan kegiatan.
-Patient. Toleran, tidak terpengaruh molornya jam.
5.-Spontaneous. Melakukan banyak hal dengan tidak dihambat oleh rencana.
-Sure. Yakin, jarang ragu-ragu atau goyah.
-Scheduled. Menghayati menurut rencana sehari-hari dan tidak suka rencananya.
terganggu.
-Shy. Pendiam, tidak mudah terseret percakapan.
6.-Funny. Bisa membuat cerita apa saja jadi menarik.
-Forceful. Menyebabkan orang lain sungkan dengan dominasi kepribadiannya.
-Faithful. Secara konsisten bisa diandalkan, setia.
-Friendly. Suka menanggapi, bukan orang yang punya inisiatif, dan jarang memulai
percakapan.
7.-Delightful. Menyenngkan sebagai teman.
-Daring. Bersedia mengambil resiko, pemberani.
-Detailed. Melakukan semuanya secara urut dengan ingatan yang jernih dalam
memorinya.
-Diplomatic. Mengurusi sesuatu dengan penuh siasat, perasa, dan sabar.
8.-Talker. Suka bicara, merasa perlu mengisi kesunyian supaya orang lain senang.
-Tenacious. Keras hati, tidak mundur sebelum tujuan tercapai.
-Thoughtful. Tanggap dan merespon dengan baik.
-Tolerant. Mudah menerima pikiran dan cara orang lain.
9.-Popular. Menghidupkan suasana sehingga sering diundang dalam banyak acara.
-Productive. Giat beraktivitas, tidak menyukai pengangguran.
-Perfectionist. Menempatkan standar tinggi pada dirinya, dan sering pada orang
lain.
-Pleasant. Mudah bergaul, terbuka.
10.-Lively. Penuh kehidupan, kuat, semangat.
-Leader. Pemberi pengarahan karena bawaan, dan sering merasa sulit percaya bahwa
orang lain bisa melakukan pekerjaan sama baiknya.
-Loyal. Setia, bahkan tanpa adanya alasan.
-Listener. Selalu bersedia menjadi pendengar yang baik.
Kelemahan
1.-Brassy. Suka pamer, terlalu banyak bersuara.
-Bossy. Suka memerintah, terkadang mengesalkan dalam hubungan antara orang dewasa.
-Bashful. Menghindari perhatian akibat minder.
-Blank. sedikit berekspresi wajah atau emosi.
2.-Undisiplined. Kurang keteraturan hampir dalam setiap segi.
-Unsympathetic. Merasa sulit mengenali perasaan orang lain.
-Unforgiving. Sukar melupakan sakit hati, biasa menyimpan dendam.
-Unenthusiasic. Cenderung tidak bergairah, merasa bahwa bagaimanapun tidak akan
berhasil.
3.-Haphazard. Tidak punya cara yang konsisten.
-Headstrong. Bersikeras memaksakan caranya sendiri.
-Hard to please. Terlalu tinggi menetapkan standar sehingga orang lain sulit
memuaskannya.
-Hesitant. Lambat dan sulit untuk ikut terlibat.
4.-Permissive. Memperbolehkan orang lain melakukan apa saja asal dirinya tidak
dibenci.
-Proud. Harga dirinya tinggi, merasa terbaik di bidangnya.
-Pessimistic. Lebih dulu melihat sisi buruk dari yang hendak dikejarnya.
-Plain. Terlalu polos, jarang terpengaruh rangsangan emosional.
5.-Angered- easily. Berperangai bak anak-anak, suka ngambek dan melupakannya hampir
seketika.
-Argumentative. Gemar berdebat karena biasanya dia benar, tidak peduli bagaimana
situasinya.
-Alianated. Mudah merasa terasing, jangan-jangan orang lain menjauhinya.
-Aimless. Tidak ingin dan acuh dengan orientasi hidup.
6.-Naïve. Berpandangan hidup sederhana, kurang bijaksana.
-Nervy. Penuh keyakinan, tekad dalam arti negatif.
-Negative-attitude. Jarang bersikap positif, hanya melihat sisi buruk dari setiap
situasi.
-Nonchalant. Bebas bergaul, masa bodoh.
7.-Talkative. Suka berbicara, tapi merasa sulit hanya mendengarkan sesuatu.
-Tactless. Menyatakan dirinya dengan kurang mempertimbangkan perasaan orang lain.
-Too-sensitive. Terlalu instropektif dan mudah tersinggung kalau disalahpahami.
-Timid. Mundur dari situasi sulit.
8.-Show-off. Merasa perlu menjadi pusat perhatian.
-Stubborn. Tidak mudah diberi pengertian, bebal.
-Skeptical. Tidak mudah merasa percaya, mempertanyakan setiap motif di balik
kata-kata.
-Slow. Jarang bertindak atau berpikir dengan cepat.
9.-Restless.Cepat bosan dengan sesuatu.
-Rash. Acap tergesa-gesa karena tidak sabar.
-Revengevul. Menganggap kecil arti persahabatan ketika mengalami konflik.
-Reluctant. Tidak bersedia ikut terlibat persoalan.
10.-Changeable. Butuh banyak variasi dan perubahan supaya tidak merasa bosan.
-Crafty. Licik, memakai segala cara asal tercapai.
-Critical. Selalu mengevaluasi, menyatakan reaksi negatif dalam penilaian.
-Compromising. Sering mengalah, bahkan ketika benar untuk menghindari konflik.
Tes ini sangat mudah ditafsirkan. Pada setiap nomor, setiap sub pertama (misal animated) mewakili tipe sanguinis yang periang. Sub kedua (misal persuasive) adalah tipe koleris yang berwibawa. Sub ketiga adalah tipe melankolis yang serius. Sub keempat adalah tipe phlegmatis yang kalem. Dengan menjumlahkan gabungan poin keunggulan dan kekurangan, kita bisa mengetahui perpaduan apa yang paling dominan dari diri kita.
Di samping itu, kita juga bisa mengenali watak khas dari tiap tipe, baik sifat positif maupun negatifnya. Sebagai catatan, mungkin benar acapkali pesona pribadi orang lain memukau kita. Tetapi, menjadikan seseorang sebagai sosok teladan tidak harus dengan memaksa diri kita menjadi karakter orang lain yang memang berbeda dengan kita. Bukankah para sahabat dalam meneladani sosok nabi SAW. tetap memiliki corak kepribadian masing-masing yang khas?
Sumber: Florence littauer, “personality plus.”
Berita
Hider's
Arsip
-
▼
2009
(93)
-
►
Juni
(30)
- Ulang Tahun ke 24
- Maafkan Aku Telah Lalai Menyapamu
- Menunggu Datangnya Penguasa Bijak
- Pemilu dan Demokrasi
- Pemimpin Afeksi dan Kognitif
- Pendekatan Ilmiah tehadap Kisah-kisah al-Quran
- Perbandingan Kursi Iman dan Kursi Ilmu
- PR Para Kiai
- Tentang Inspirasi
- Membedakan Zionisme dari Yahudi
- Jusuf Kalla dan Gerhana
- Ancaman Bagi Perkawinan Islam dan Demokrasi
- Remaja Harus Berani Menantang Masa Depan
- Ilmu Bermanfaat, Perantara Taqwa
- Lirboyo Menggebrak
- Politik Partai Islam Sesat
- Prabowo dan Kiai, Langkah Politis Atau Silaturrahi...
- Pesantren Salaf Bicara
- Epistemologi, Sebuah Pendekatan Sistematis
- Emosi Diserobot di Traffic Ligth
- Dibalik Fenomena Meningkatnya Pasien Penyakit Jiwa...
- Spirit Laskar Pelangi
- Doa Sang Alumni
- Cakrawala Hilal Patria
- Benarkah Kita Tamat Sekarang?
- “Wong Nduwuran” Dunia Wayang Yang Membosankan
- Babak Baru Kebangkitan Islam
- Plato dan Takdir
- Analisa Fikih Para Mujtahid
- Ancaman Bagi Perkawinan Islam dan Demokrasi
-
►
Mei
(39)
- Sejarah Singkat M3HM
- Kilasan Sejarah Mading Hidayah
- Dilema Musyawaroh
- Budaya Yang Bukan Tradisi
- Membela Ahmadiyyah?
- Mentradisikan Gemar Membaca
- Ketika NU Hilang
- Islam Dan Pluralisme
- Belajarlah Pada Sejarah
- Situ bin Gintung Cirendeu
- Proyeksi Idealisme Kehidupan
- Wayang, Mitos dan Sejarah
- Wanita-Wanita Permata dan Genozida Gaza
- Tong dan Sandal Jepit Penyesalan
- Thinking, For Succes
- Ilmu Yang Tidak Kudapat dan Kudapat
- Meningkatkan Kualitas Pidato
-
►
Juni
(30)
Senin, 20 Juli 2009
Apa Tipe Kepribadian Anda?
Kegagalan Komunikasi
Oleh: Imaduddin M.S.
Dalam suatu kunjungan kenegaraan, Presiden Kennedy berada satu mobil dengan Presiden Meksiko, Joseph Estrada. "Arloji Anda bagus sekali!" kata Presiden Estrada sambil menunjuk arloji yang melingkar di tangan Presiden Amerika itu. Seketika Presiden Kennedy melepas arlojinya dan memberikannya kepada Presiden Estrada. Presiden Estrada terkejut. "Di negara kami, kami akan memberikan barang milik kami bila ada orang yang memujinya," jawab Presiden Kennedy. Presiden Estrada manggut-manggut mendengarkan penjelasan Presiden Kennedy.
Mobil yang ditumpangi dua Kepala Negara Amerika Utara itu masih terus melaju. Tak berapa lama Presiden Kennedy berkata kepada koleganya. "Istri Anda cantik sekali!" Seketika Presiden Estrada melepaskan arloji yang diberikan oleh Presiden Kennedy tadi dan menyerahkannya kembali kepadanya, "Terimakasih, di negara kami banyak sekali Arloji seperti punya Anda!" Presiden Kennedy hanya terdiam mendengar ucapan Presiden Meksiko itu.
Suatu kali di bulan puasa, seorang saudara berkunjung ke rumah nenek saya. Kedatangannya disambut dengan ramah oleh beliau. "Nenek puasa?" kata saudara saya membuka pembicaraan. Kontan saja nenek saya marah menerima pertanyaan itu. "Apa kamu kira saya tidak puasa apa!" Keramahan yang ditunjukkan nenek waktu menyambut saudara saya itu kontan lenyap, berganti dengan kemarahan. Nenek saya merasa tersinggung dengan pertanyaan itu. Tentu saja tersinggung. Soalnya dalam usia yang cukup renta beliau tak pernah meninggalkan puasanya.
Di waktu yang lain, seorang teman yang sudah lama meninggalkan Pesantren Lirboyo datang. Banyak cerita mengalir darinya. Antara lain bahwa saat ini dia sedang merintis Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) di rumahnya. Tapi pembangunan TPQ tersebut sedikit menemui kendala akibat salah seorang ustadz yang kebetulan menjadi salah satu tokoh masyarakat di rumahnya tidak setuju. Ustadz itu tidak setuju karena di kampung itu sudah ada TPQ yang di asuh olehnya. Jadi, tidak usah mendirikan TPQ baru, dicukupkan dengan yang sudah ada. Tapi meskipun mendapat tentangan dari ustadz itu, kawan saya tetap ngotot mendirikan TPQ. "Saya pikir, lebih banyak TPQ justru lebih baik, agar kehidupan beragama di kampung saya lebih semarak," katanya diplomatis.
Tujuannya ke Lirboyo kali ini memang ada kaitannya dengan rencana pendirian TPQ tersebut. Rencananya dia ingin sowan kepada salah seorang masyayikh Lirboyo guna minta doa restu. Walhasil dia menggaet salah seorang teman kami untuk dijadikan sebagai juru bicara kepada Kyai. Nah, disinilah kemudian masalah muncul. Orang yang ditunjuk sebagai juru bicara tersebut mengatakan kepada Kyai, bahwa dia mendapat banyak saingan di rumah, karena itu dia minta doa dari Kyai agar dipermudah jalannya. Kontan saja Kyai marah mendengar keterangan dari juru bicara itu. Kata Kyai, "Tidak ada kata persaingan dalam dakwah!"
*****
Komunikasi menjadi bagian terpenting dari hidup kita. Sebuah penelitian mengungkapkan, 70 persen waktu bangun kita digunakan untuk berkomunikasi. Jika komunikasi menjadi bagian hidup kita, berarti komunikasi yang kita lakukan harus di tata dan manaje dengan baik agar menghasilkan komunikasi yang efektif.
Ketiga kisah di atas melukiskan apa yang disebut sebagai kegagalan komunikasi. Kennedy gagal mengkomunikasikan maksudnya kepada Presiden Estrada, saudara saya gagal menerjemahkan pesannya kepada nenek saya, dan juru bicara yang ditunjuk kawan saya juga gagal menyampaikan kehendak kawan saya.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering gagal menyampaikan maksud kepada orang lain. Maksud kita adalah A namun dipahami oleh orang lain sebagai B. Apa yang menyebabkan komunikasi menjadi gagal? Banyak. Antara lain yang terbanyak adalah salah menggunakan bahasa. Faktor lain, seringkali kita tidak memahami budaya, kondisi psikologis, dan lingkungan lawan bicara kita. Karena itu, ahli retorika (balaghah) merumuskan, komunikasi efektif adalah menyampaikan pesan sesuai dengan lingkungan komunikasi. Lingkungan komunikasi adalah motif-motif yang menggerakkan seseorang untuk berbicara dengan menggunakan tekhnik-tekhnik tertentu.
Sedikit Tentang Lebah*
Oleh: Alfa RS.
Hampir semua orang tahu bahwa madu adalah sumber makanan penting bagi tubuh manusia, tetapi sedikit sekali manusia yang menyadari sifat-sifat luar biasa dari sang penghasilnya, lebah madu. Untuk itu, walau tulisan ini lebih banyak bukan hasil utek penulis, kiranya perlu kita cermati sebagai selingan pengetahuan.
Dalam al Quran di sebutkan, "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia," kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan," (QS. An Nahl, 16:68-69).
Sebagaimana kita ketahui, sumber makanan lebah adalah sari madu bunga, yang tidak dijumpai pada musim dingin. Oleh karena itulah, lebah mencampur nektar (sari madu bunga) yang mereka kumpulkan pada musim panas dengan cairan khusus yang dikeluarkan tubuh mereka. Campuran ini menghasilkan zat bergizi yang baru dan menyimpannya untuk musim dingin mendatang. Cairan baru itu adalah madu.
Sungguh menarik untuk dicermati bahwa lebah menyimpan madu jauh lebih banyak dari yang sebenarnya mereka butuhkan. Pertanyaan pertama yang muncul pada benak kita adalah: mengapa lebah tidak menghentikan pembuatan dalam jumlah berlebih ini, yang tampaknya hanya membuang-buang waktu dan tenaga? Jawaban untuk pertanyaan ini tersembunyi dalam kata "wahyu [ilham]" yang telah diberikan kepada lebah, seperti disebutkan dalam ayat tadi.
Lebah menghasilkan madu bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan juga untuk manusia. Sebagaimana makhluk lain di alam, lebah juga mengabdikan diri untuk melayani manusia; sama seperti ayam yang bertelur setidaknya sebutir setiap hari kendatipun tidak membutuhkannya dan sapi yang menghasilkan susu jauh melebihi kebutuhan anak-anaknya.
Dalam sarang lebah terdapat pengaturan yang luar biasa. Kehidupan lebah di sarang dan pembuatan madunya sangatlah menakjubkan. Tanpa membahas terlalu terperinci, marilah kita amati ciri-ciri utama "kehidupan masyarakat" lebah, makhluk kecil yang harus melaksanakan banyak "tugas" dan mereka mengatur semua ini dengan pengaturan yang luar biasa.
Pertama, lebah madu memiliki pengaturan kelembapan dan pertukaran udara. Kelembapan sarang, yang membuat madu memiliki tingkat keawetan yang tinggi, harus dijaga pada batas-batas tertentu. Pada kelembapan di atas atau di bawah batas ini, madu akan rusak serta kehilangan keawetan dan gizinya. Begitu juga, katanya, suhu sarang haruslah 35 derajat celcius selama sepuluh bulan pada tahun tersebut. Untuk menjaga suhu dan kelembapan sarang ini pada batas tertentu, ada kelompok khusus yang bertugas menjaga pertukaran udara.
Jika hari panas, terlihat lebah sedang mengatur pertukaran udara di dalam sarang. Jalan masuk sarang dipenuhi lebah. Sambil menempel pada kayu, mereka mengipasi sarang dengan sayap. Dalam sarang yang baku, udara yang masuk dari satu sisi terdorong keluar pada sisi yang lain. Lebah pengatur pertukaran udara yang lain bekerja di dalam sarang, mendorong udara ke semua sudut sarang. Perangkat pertukaran udara ini juga bermanfaat melindungi sarang dari asap dan pencemaran udara.
Kedua, Penataan kesehatan. Lebah berupaya untuk menjaga mutu madu tidak terbatas hanya pada pengaturan kelembapan dan panas. Di dalam sarang terdapat jaringan pemeliharaan kesehatan yang sempurna untuk mengendalikan segala peristiwa yang mungkin menimbulkan berkembangnya bakteri. Tujuan utama penataan ini adalah menghilangkan zat-zat yang mungkin menimbulkan bakteri. Prinsipnya adalah mencegah zat-zat asing memasuki sarang. Untuk itu, dua penjaga selalu ditempatkan pada pintu sarang. Jika suatu zat asing atau serangga memasuki sarang, walau sudah ada tindakan pencegahan ini, semua lebah bertindak untuk mengusirnya dari sarang.
Untuk benda asing yang lebih besar yang tidak dapat dibuang dari sarang, digunakan cara pertahanan lain. Lebah membalsam benda asing tersebut. Mereka menghasilkan suatu zat yang disebut "propolis" (getah lebah) untuk pembalsaman. Getah lebah ini dihasilkan dengan cara menambahkan cairan khusus yang mereka keluarkan dari tubuh kepada getah yang dikumpulkan dari pohon-pohon seperti pinus, hawwar, dan akasia. Getah lebah juga digunakan untuk menambal keretakan pada sarang. Setelah ditambalkan pada retakan, getah tersebut mengering ketika bereaksi dengan udara dan membentuk permukaan yang keras. Dengan demikian, sarang dapat bertahan dari ancaman luar. Lebah menggunakan zat ini hampir dalam semua pekerjaan mereka.
Lebah madu membuat tempat penyimpanan madu dengan bentuk heksagonal. Sebuah bentuk penyimpanan yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk geometris lain. Lebah menggunakan bentuk yang memungkinkan mereka menyimpan madu dalam jumlah maksimal dengan menggunakan material yang paling sedikit. Para ahli matematika merasa kagum ketika mengetahui perhitungan lebah yang sangat cermat. Aspek lain yang mengagumkan adalah cara komunikasi antar lebah yang sulit untuk dipercaya. Setelah menemukan sumber makanan, lebah pemadu yang bertugas mencari bunga untuk pembuatan madu terbang lurus ke sarangnya. Ia memberitahukan kepada lebah-lebah yang lain arah sudut dan jarak sumber makanan dari sarang dengan sebuah tarian khusus. Setelah memperhatikan dengan seksama isyarat gerak dalam tarian tersebut, akhirnya lebah-lebah yang lainnya mengetahui posisi sumber makanan tersebut dan mampu menemukannya tanpa kesulitan.
Lebah menggunakan cara yang sangat menarik ketika membangun sarang. Mereka memulai membangun sel-sel tempat penyimpanan madu dari sudut-sudut yang berbeda, seterusnya hingga pada akhirnya mereka bertemu di tengah. Setelah pekerjaan usai, tidak nampak adanya ketidakserasian ataupun tambal sulam pada sel-sel tersebut. Manusia tak mampu membuat perancangan yang sempurna ini tanpa perhitungan geometris yang rumit; akan tetapi lebah melakukannya dengan sangat mudah.
Sejak jutaan tahun yang lalu lebah telah menghasilkan madu sepuluh kali lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Satu-satunya alasan mengapa binatang yang melakukan segala perhitungan secara terinci ini memproduksi madu secara berlebihan adalah agar manusia dapat memperoleh manfaat dari madu yang mengandung “obat bagi manusia” tersebut. Allah menyatakan tugas lebah ini dalam Al-Qur'an:
Sebagaimana dalam QS. an-Nahl, 16: 69, "Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.
Madu sendiri tersusun atas beberapa molekul gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, potasium, sodium, klorin, sulfur, besi dan fosfat. Madu juga mengandung berbagai vitamin yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas madu bunga dan serbuk sari yang dikonsumsi lebah. Di samping itu di dalam madu terdapat pula tembaga, yodium dan seng dalam jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon.
Sebagaimana firman Allah, madu adalah “obat yang menyembuhkan bagi manusia”. Fakta ilmiah ini telah dibenarkan oleh para ilmuwan yang bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina. Dalam konferensi tersebut didiskusikan pengobatan dengan menggunakan ramuan yang berasal dari madu. Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, serbuk sari dan propolis (getah lebah) dapat mengobati berbagai penyakit. Seorang dokter asal Rumania mengatakan bahwa ia mencoba menggunakan madu untuk mengobati pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh sama sekali. Para dokter asal Polandia juga mengatakan dalam konferensi tersebut bahwa getah lebah (bee resin) dapat membantu menyembuhkan banyak penyakit seperti bawasir, penyakit kulit, penyakit ginekologis dan berbagai penyakit lainnya.
Sampai di sini, berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran. Getah lebah mencegah bakteri apa pun hidup di dalamnya. Ini menjadikan propolis sebagai zat terbaik untuk pembalsaman. Bagaimana lebah mengetahui bahwa zat tersebutlah yang terbaik? Bagaimana lebah menghasilkan suatu zat, yang hanya bisa dibuat manusia dalam laboratorium dan menggunakan teknologi, serta dengan pemahaman ilmu kimia? Bagaimana mereka mengetahui bahwa serangga yang mati dapat menimbulkan tumbuhnya bakteri dan bahwa pembalsaman akan mencegah hal ini?
Sudah jelas lebah tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang ini, apalagi laboratorium. Lebah hanyalah seekor serangga yang panjangnya 1-2 cm dan ia melakukan ini semua dengan apa yang telah diilhamkan Tuhannya. Wallahu 'alam
*Dari berbagai sumber
Kamis, 18 Juni 2009
Ulang Tahun ke 24
Oleh: Cak Hid’s
Sekedar ungkapan syukur
Kenangan prestasi Hidayah
Cak Hid’s 2008-2009
Pimrednya Cak Hid's
Dedauanan baru saja terlelap melepas penat setelah seharian menari menghibur dunia. Lantunan deru angin malam baru saja menggema, menemani dingin malam yang siap merangkul semesta. Semua beristirahat melepas ketegangan sandiwara yang entah besok atau lusa akan usai juga. Namun Cak Hid’s, mereka masih asik terjaga. Ya. Guratan kebahagiaan memancar dari raut Cak Hid’s, karena malam itu mereka merayakan ulang tahun Hidayah yang ke dua puluh empat.
Acara sederhana dengan sajian menu seadanya. Lewat lantunan tahlil dan tahmid mereka bermunajat kepada-Nya dengan harapan apa yang selama ini telah dan akan dicapai mendapat ridha dari Allah swt.
Doakan kami untuk menjadi pemandu kreasi santri. Amin.
Maafkan Aku Telah Lalai Menyapamu
Oleh: M. Ichsan Maulana
setiap pagi tumbuhan berteriak
aku yang pertama menyapa pagi
seolah mereka berebut untuk itu
mereka bangun mendahului fajar
mereka telah menbuka mata
mereka menjadi saksi sang mentari
sebelum cahaya pagi membuka cahayanya
maafkan kami pagi
karena jarang manyapamu
engakau datang aku tak tahu
aku dalam rengkuhan tidurku
maafkan, kami pagi
tak bersamamu menyebut nama tuhanku
maafkan kami pagi
Menunggu Datangnya Penguasa Bijak
Oleh: Alfan BD.
Manusia memang tidak akan pernah tahu pasti apa yang akan terjadi esok. Tapi dengan mencermati alam (ayat kauniah) seseorang bisa memprediksi apa yang akan menimpa dirinya. Karena, hari kiamat saja ada tanda-tandanya.
”Sesungguhnya aku ini Nabimu pemberi nasihat da’i yang menyeru kepada jalan Rabbmu. Dengan izin-Nya. Aku ini bagaikan saudara kalian yang penyayang dan seorang bapak yang pengasih. Siapa yang terasa teraniaya olehku hendaklah bangkit berdiri sekarang juga untuk melakukan qishash kepadaku. Sebelum ia melakukanya di hari kiamat.” Sabda Rasulullah Saw., setelah yakin bahwa Allah Swt. akan memanggilnya dalam waktu dekat. Rasulullah mengulangi ucapannya sampai tiga kali, kemudian tampillah Ukasyah.
“Ibu dan ayahku jadi tebusanmu, ya Rasulullah, kalau tidak karena engkau telah berkali-kali menuntut kami supaya berbuat sesuatu atas dirimu tidaklah aku berani tampil begini, dulu aku pernah bersamamu di medan perang Badar. Saat itu untaku berdampingan dengan untamu, lalu aku turun dari untaku dan menghampirimu, bersamaan dengan itu engkau mencambuk untamu agar berjalan lebih cepat. Cambukmu itu telah mengenai lambungku, saya tidak tahu apakah perbuatanmu itu sengaja atau tidak.”
Rasulullah menjawab, “Maha suci Allah, ya Ukasyah, masa Rasulullah bermaksud memukul engkau dengan sengaja.” Kemudian beliau menyuruh Bilal untuk mengambil cambuk itupun langsung diserahkan pada Ukasyah. Betapa marahnya Abu bakar dan Umar ra. melihat perilaku Ukasyah.” Hai Ukasyah! Kami sekarang berada di hadapanmu , qishash saja kami berdua, jangan sekali-kali kau pukuli Rasulullah Saw.
“Duduklah kalian berdua. Allah mengetahui kedudukanmu!” sela Rasulullah Saw. Hal yang sama juga beliau ucapkan ketika Ali bin Abi Thalib dan sikembar Hasan dan Husein menawarkan diri untuk menggantikan dirinya. “Hai Ukasyah! Pukullah aku jika engkau berhasrat melakukan qishash.” ucap Rasulullah tegas.
“Ya Rasulullah, sewaktu engkau memukul aku dulu, kebetulan aku tidak mengenakan selembar baju pun.” Ucapan Ukasyah itu dijawab Rasulullah dengan membuka bajunya. Ketika Ukasyah melihat putih tubuh Rasulullah, ia segera mendekat, memeluk dan mencium punggung beliau. “Tebusanmu ruhku ya Rasulullah. Siapakah yang tega untuk mengqishash engkau? Aku sengaja melakukan ini hanya karena berharap agar tubuhku dapat menyentuh tubuhmu yang mulia, sehingga dengan kehormatanmu itu Allah dapat menjaga tubuhku dari sentuhan api neraka.” “Wahai para sahabatku, siapa saja yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah laki-laki ini.” sabda Rasulullah.
Kisah masyhur di atas menjadi menarik untuk diulas ketika begitu banyak pemimpin dunia dengan ringan melepaskan tanggung jawabnya. Tragisnya, banyak di antara mereka yang ketahuan boroknya setelah tidak lagi berkuasa. Rakyat yang dulu memuja-muja pun tertipu. Mereka menuntut mantan penguasa itu agar mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Namun apa lacur, jangankan mau mengaku, mantan penguasa itu malah gesit berkelit.
Masih ingatkah semenjak terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997 lalu, gema tuntutan reformasi yang digerakan oleh mahasiswa menghentakkan atmosfir kehidupan nasional. Meskipun bermula dari krisis ekonomi, bola reformasi itu bergulir deras ke bidang politik. Soeharto pun dengan berat hati melepaskan jabatan presiden yang sudah dinikmatinya selama 32 tahun. Selama 32 itulah pembangunan ekonomi dibangun di atas praktek kejahatan-kejahatan politik dan nafsu pribadinya. Semua memprotes praktek politik menindas, yang dianggap menjadi sumber penyebab atau akar masalah praktek ekonomi yang tidak sehat. Monopoli, korupsi, kolusi dan nepotisme, serta praktek-praktek kekuasaan yang tamak telah memaksa soeharto, seorang tiran yang melebihi Fir’aun pada masa itu, jatuh tersungkur dari kursi kekuasaan dan tanpa tanggung jawab sedikitpun membiarkan negeri ini berada dalam kondisi yang semakin mencekik leher. Umat islam sebagai rakyat yang mayoritas hidup, beranak, berjuang dan mati di tanah air yang dipertahankan turun temurun ini menjadi taruhan dari perjudian politik di era reformasi sekarang ini.
Momentum perubahan sudah datang dengan hadirnya perlawanan rakyat untuk membakar, menjarah dan tindakan kriminal anarkis lainnya. Maka letusan amarah rakyat tak bisa dibendung lagi, masyarakat seakan meyakini adagium “change comes from chaos” (perubahan datang dari kekacauan). Padahal, gerakan reformasi bulan Mei 1998 lalu, dilihat dari esensinya masih terlalu jauh untuk disebut berhasil memenuhi semua keinginan rakyat. Banyak yang tertipu “Reformasi premature” ini dan bagaimanakah umat Islam harus merespon reformasi bukan hanya menggulingkan seorang ‘tiran’, melainkan mengikis habis ideologi, kultur dan undang-undang produk masa lalu sampai ke akar-akarnya. Umat Islam adalah umat terbaik yang diserahi tanggung jawab berat untuk mencabut semua itu dan menggantinya dengan sistem yang lebih baik serta menjaga keselamatan umat manusia lainnya dan segala sesuatu yang berada di muka bumi Allah ini. Sungguh jauh berbeda dengan Rasulullah Saw. Beliau adalah pemimpin agung. Beliau sadar betul akan tanggung jawabnya dan siap menerima balasan dari rakyatnya yang merasa teraniaya. Padahal Allah sendiri telah menjamin bahwa beliau bebas hisab. Bandingkanlah dengan para penguasa sekarang yang bergelimang dosa bahkan sejak mereka memperebutkan kursi kekuasaan.
Oh, alangkah indahnya hidup ini bila kita mempunyai pemimipin yang mencintai rakyatnya dan rakyat pun mencintainya. Siap berbagi rasa, dalam susah dan senang, bersama rakyatnya. Bukan pemimpin yang enggan bertanggung jawab dengan tega membiarkan rakyat sengsara. Reformasi total sepenuhnya berada dalam tanggung jawab umat Islam Indonesia, di sini dan kini…!
Pemilu dan Demokrasi
Oleh: Alfa RS.
Demokrasi, mungkin bagi sebagian hal ini biasa. Namun bagi penulis, melihat semarak Pemilu yang kian ‘meriah’ dan membingungkan -terutama bagi mereka yang hanya tinggal memilih- kiranya perlu kita suguhkan, bisa juga dikatakan ‘penyegaran’ kembali akan hal itu.
Secara bahasa, demokrasi berasal dari bahasa Yunani Demokratia. Demos artinya rakyat (people) dan cratos artinya pemerintahan atau kekuasaan (rule), berarti demokrasi mengandung makna suatu sistem politik dimana rakyat memegang kekuasaan tertinggi, bukan kekuasaan oleh raja atau kaum bangsawan. Secara etimologi, demokrasi adalah bentuk pemerintahan atau kekuasaan Negara yang tertinggi, dimana sumber kekuasaan tertinggi adalah kekuasaan (ke) rakyat (an) yang terhimpun melalui majelis yang dinamakan Majelis Pemusyawaratan Rakyat.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, di sebutkan bahwa demokrasi adalah (bentuk atau sistem) pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantara wakilnya. Untuk menjalankannya, ada kekuasaan legislatif (dipegang oleh MPR [Majelis Permusyawatan Rakyat] yang terdiri dari dua badan; DPR (anggotanya terdiri dari wakil-wakil Partai Politik, saat ini berjumlah 550 orang) dan DPD (anggotanya mewakili provinsi yang ada di Indonesia, sekarang beranggotakan 128 orang), kekuasaan eksekutif (berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet) dan kekuasaan yudikatif (sejak masa reformasi dijalankan oleh Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, dan Mahkamah Konstitusi.)
Dari sana mungkin kita akan bertanya, sebegitu njlimetnyakah bentuk Negara kita? Mungkin juga dan itulah demokrasi. Artinya, ‘dalam bentuk’ Negara kita memang benar-benar menjadikan rakyat segalanya, pemerintahan kita berkedaulatan (kekuasaan tertinggi) rakyat yang dipimpin oleh seorang presiden.
Nah, menuju ke arah sana (kekuasaan tertinggi berada pada rakyat) maka sembilan April nanti kita menggelar Pemilihan Umum (Pemilu). Hari itu kita akan memilih anggota legislatif (DPR dan DPD) yang tampangnya sudah jauh-jauh hari menghiasi jalan raya. Mereka, dengan berbagai simbol dan lambang inilah yang akan mewakili kita mengurus Negara.
Lalu, untuk mengajukan seorang calon pemimpin kita (presiden), sebuah ‘simbol’ harus memiliki 25 persen suara sah, suara kita pada 9 April nanti. Mudahnya, kalau ‘simbol’ kita gugur, kurang dari 25 persen perolehan suaranya, maka kita ('simbol' kita) tidak berkesempatan memberikan calon presiden., kecuali dia mau berkoalisi dengan kelompok lain. Setelah presiden terpilih, dia akan menentukan siapa-siapa saja yang akan mendampinginya mengatur Negara, orang inilah yang disebut dengan kabinet atau menteri.
Sejarah mencatat, bangsa Indonesia untuk pertama kalinya menggelar Pemilu pada pada tahun 1955, sepuluh tahun setelah kita merdeka. Pemilupun dilakukan dua kali; 29 September 1955 dan 15 Desember 1955 setelah lahirnya UU No.7 tahun 1953 tentang Pemilu. UU yang menjadi payung hukum Pemilu secara langsung, umum, bebas dan rahasia.
Mungkin karena memandang demokrasi dari sisi yang lain; melawan monopoli kaum politisi, pejabat dan teknokrat untuk begitu saja menentukan apa yang baik bagi masyarakat, menambah makin banyaknya ‘relawan’ yang hendak memikul Indonesia. Entah dari visi dan misi bagaimana, yang jelas menurut penulis keberadaan peserta Pemilu kali ini begitu memalukan. Khususnya bagi muslimin. Mengapa?
Negara kita berpenduduk terbesar keempat di dunia (perk. 24 Januari 2009 jumlahnya 237,512,352 jiwa) dan mayoritas memeluk agama Islam (sekitar 85,2%) yang menjadikan kita Negara Muslim terbesar di dunia. Sedangkan partai politik adalah sebuah organisasi yang mencalonkan kandidat untuk ‘santai’ di gedung DPR dan mewakilkan sejumlah prinsip, teori dari ide-ide khusus yang diusung oleh mayoritas anggotanya.
Katanya, kalau melihat prinsip dan ideologi parpol di Amerika, orang paling bodoh berpolitik pun paling tidak bisa membedakan, bahwa Partai Republik arah kebijakannya lebih konservatif; sementara Demokrat lebih ke arah perubahan. Perbedaan yang jelas ini bisa dijadikan dasar bagi pemilih untuk mengambil sikap. Misalnya, jika warga itu pro-aborsi, maka dia akan mendukung Partai Demokrat; sementara jika ia mendukung hak kepemilikan senjata bagi individu, maka akan mencoblos Partai Republik.
Sedang di Indonesia, pada pemilu 1999 dan 2004, ada beberapa prinsip dan ideologi parpol; Pancasila, Islam, dan Marhaenisme. Penulis belum begitu mengetahui tentang ideologi dan prinsip seluruh parpol yang akan bertanding nanti. Namun, parpol yang menggaruk pemilih lewat ‘celah agama’ -khususnya Islam- kurang lebih sama dalam prinsip-prinsipnya. Jika begini, kenapa harus bangun banyak parpol? Bukankah lebih gampang menyatukan parpol yang serupa, sehingga kesempatan meraih kursi dan merepresentasikan ideologi dan prinsipnya di parlemen lebih terbuka? Ataukah slogan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat telah membingungkan rakyat?


