Oleh: Cak Hid's
Dulu, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1985 M. di alun–alun Kota Kediri ada sebuah pameran pembangunan Kodia Kediri. Dalam pameran itu, untuk pertama kalinya delegasi santri Lirboyo menampilkan karya majalah dinding walaupun di dalam pesantren sendiri belum ada. Nah, baru seusai mengikuti pameran itu, beberapa santri mulai berfikir mendirikan sebuah majalah dinding pondok Lirboyo.
Menurut beberapa sumber, penggagas utama berdirinya majalah dinding Lirboyo adalah Fadholi el Munir (pengasuh pondok pesantren Ziyadatul Mubtadi-en, Cakung, Jakarta Timur, yang wafat pada selasa 29 maret 2009), ketua umum M3HM (Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, lembaga yang mengurus masalah diskusi materi pelajaran Pondok Pesantren Lirboyo) saat itu.
Gagasan itu mula-mula tidak langsung mendapat kata sepakat. Kontroversipun terjadi dikalangan pimpinan Lirboyo. Pendapat yang kontra menganggap pendirian Mading tersebut sebagai hal yang naïf. Sebab saat itu sedang gencar-gencarnya larangan membaca koran dan majalah dalam pondok pesantren Lirboyo. Namun, Fadholi, abang Jakarta, yang konon cerdas, keras dan banyak ide itu tetap gigih memperjuangkan gagasannya. Dijelaskannya bahwa dengan majalah dinding santri Lirboyo tersebut justru diajak meningkatkan gairah belajar, disamping berkembang pula bakat tulis-menulis para santri.
Setelah itu, walaupun secara resmi belum mendapat surat izin penerbitan, mading hidayah mendapatkan lampu hijau berkat bantuan Marwan Masyhudi, seorang kepala Madrasah Lirboyo waktu itu. Dan tepat pada tanggal 9 September 1985, Fadholi el Munir, yang kemudian menjadi pimpinan redaksi pertama, bersama teman-temannya yang punya skill dibidang jurnalistik, diantara Cak Hid's (sebutan buat kru Mading Hidayah) itu adalah; Nurbadri (sekarang bermukim di Parakan, Temanggung), Ma’ruf Asrori (kini pemilik penerbit Khalista, Surabaya), Bastari Alwi, Sahlan Aidi, menyusul kemudian Badrudin Ilham, mendirikan majalah dinding.
Waktu itu (1985 M.) mading belum punya nama khusus. Hanya tertera “Majalah Dinding M3HM” dengan motto; “Media Pengembangan Ilmu dan Amal”. Inisiatif memberi nama HIDAYAH muncul pada tahun 1988, ketika hendak mengikuti lomba koran dinding tingkat nasional. Waktu itu mading Hidayah masuk menjadi finalis yang ke-30 dari jumlah 229 peserta. Dipilihnya nama 'Hidayah' di ilhami oleh nama madrasah Lirboyo, yaitu Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien.
Setelah diberi nama Hidayah, motto yang berbunyi "pengembangan ilmu dan amal" dihilangkan. Baru pada tahun 1990 M. Hidayah menggantinya dengan "pemandu kreasi santri", suatu motto yang ditemukan saat Hidayah mengadakan lomba logo pada tahun 1989 M. Dan kalau dipandang dari tata letaknya (lay out), Majalah Dinding Hidayah ini terlihat sederhana, namun ternyata mempunyai prestasi yang membanggakan baik di tingkat regional maupun nasional.
Sebagai bukti, Mading Hidayah tercatat sebagai 20 besar nominator majalah dinding terbaik nasional, juara favorit dalam pameran pers di Surabaya pada peringatan Hari Pers Nasional tanggal 09 Pebruari 1989. Mading Hidayah juga pernah menjadi nominator 4 besar dalam lomba KORDING (Koran Dinding) nasional pada tahun 1990 serta juara III pada LUSTRUM VII Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Dan pada tahun 2003, Mading HIDAYAH menduduki peringkat III se-Jawa Timur dalam lomba karya tulis versi Bahasa Arab yang diadakan oleh Lembaga Pengembangan Bahasa Arab Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya (LPBA MASA).
Disarikan dari arsip Mading Hidayah tahun 1998 M.
Berita
Hider's
Arsip
-
▼
2009
(93)
-
►
Juni
(30)
- Ulang Tahun ke 24
- Maafkan Aku Telah Lalai Menyapamu
- Menunggu Datangnya Penguasa Bijak
- Pemilu dan Demokrasi
- Pemimpin Afeksi dan Kognitif
- Pendekatan Ilmiah tehadap Kisah-kisah al-Quran
- Perbandingan Kursi Iman dan Kursi Ilmu
- PR Para Kiai
- Tentang Inspirasi
- Membedakan Zionisme dari Yahudi
- Jusuf Kalla dan Gerhana
- Ancaman Bagi Perkawinan Islam dan Demokrasi
- Remaja Harus Berani Menantang Masa Depan
- Ilmu Bermanfaat, Perantara Taqwa
- Lirboyo Menggebrak
- Politik Partai Islam Sesat
- Prabowo dan Kiai, Langkah Politis Atau Silaturrahi...
- Pesantren Salaf Bicara
- Epistemologi, Sebuah Pendekatan Sistematis
- Emosi Diserobot di Traffic Ligth
- Dibalik Fenomena Meningkatnya Pasien Penyakit Jiwa...
- Spirit Laskar Pelangi
- Doa Sang Alumni
- Cakrawala Hilal Patria
- Benarkah Kita Tamat Sekarang?
- “Wong Nduwuran” Dunia Wayang Yang Membosankan
- Babak Baru Kebangkitan Islam
- Plato dan Takdir
- Analisa Fikih Para Mujtahid
- Ancaman Bagi Perkawinan Islam dan Demokrasi
-
▼
Mei
(39)
- Sejarah Singkat M3HM
- Kilasan Sejarah Mading Hidayah
- Dilema Musyawaroh
- Budaya Yang Bukan Tradisi
- Membela Ahmadiyyah?
- Mentradisikan Gemar Membaca
- Ketika NU Hilang
- Islam Dan Pluralisme
- Belajarlah Pada Sejarah
- Situ bin Gintung Cirendeu
- Proyeksi Idealisme Kehidupan
- Wayang, Mitos dan Sejarah
- Wanita-Wanita Permata dan Genozida Gaza
- Tong dan Sandal Jepit Penyesalan
- Thinking, For Succes
- Ilmu Yang Tidak Kudapat dan Kudapat
- Meningkatkan Kualitas Pidato
- Melacak Identitas Sains Islam
- Manfaat Organisasi
- Lirboyo, Bentuk Lain al-Azhar
- Keistimewaan Ibadah
- Gitu Aja KoK Repot!
- Hati-Hati Sama Mbah Wali
- Filosofi Pengayuh Roda Tiga
- Kontraversi Lafadz Allah
- Allahu Akbar
- Spesial Food Of Surabaya
- Falsafah Perubahan
- Israel Bangsa Nista yang Menjadi Penguasa
- Keadilan
- Dakwah Yang Beradab
- Emosi Diserobot di Traffic Ligth
- Hati-Hati Kang, Waktu Takkan Terulang
- Wanita Dalam Islam
- Ilmu dan Distorsi Kemungkaran
- Panduan Menulis Cerpen
- Israel Is Real Teroris
- Kambing dan Alat Tenun
- Ukhuwah, Dasar Pembentuk Jiwa Nasionalis
-
►
Juni
(30)
Sabtu, 30 Mei 2009
Kilasan Sejarah Mading Hidayah
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)



0 komentar:
Poskan Komentar