Oleh: M. Haromain
Koran Harian Jawa pos, edisi Senin, 27 April dalam rubrik cover story-nya mengangkat berita yang menghebohkan. “Jakarta Makin Gila” begitu judul yang dipilih sang wartawan dalam berita tersebut. Disana diungkapan bahwa berdasar data dari tiga rumah sakit jiwa utama di ibu kota, didapati bahwa jumlah pa¬sien gangguan jiwa terus meningkat. Bahkan jumlah orang yang mengalami gangguan jiwa diperkirakan sampai satu setengah juta pende¬rita. Suatu jumlah yang fantastis. Tiga rumah sakit di Jakarta membuktikan pasien penya¬kit jiwanya mengalami peningkatan ada¬lah: 1. RSJ Soeharto Herdjan Grogol; 2. RSUP Cipto Mangunkusumo; 3. RS Persahabatan.
Ratna Mardiati, Sp.KJ, direktur utama RS Soe¬harto Herdjan menyatakan bahwa sebab-sebab terjadinya fenomena peningkatan orang yang sakit jiwa ini ialah antaralain: Kepadatan jumlah penduduk, tingginya tingkat persaingan hidup,tuntutan dan beban hidup yang tinggi, fac¬tor psikososial dan deadline pekerjaan. Selain itu ratna juga membeber bahwa secara garis besar, gangguan jiwa bisa dibagi dua kelompok. Yaitu gangguan jiwa ringan (neurosis) dan gang¬guan jiwa berat (psikotik).
*****
Saya tidak menyalahkan pendapat ibu Ratna Mardiati tentang hal-hal yang menyebab¬kan masyarakat Jakarta rentan terserang penya¬kit jiwa sebagaimana diatas. Barang kali me¬mang ada benarnya bahwa orang-orang ibu kota yang menderita sakit jiwa karena lantaran kepadatan jumlah penduduk sehingga berimbas kepada tingginya tingkat persaingan hidup. Atau lantaran tuntutan dan beban hidup yang tinggi serta adanya deadline pekerjaan yang memperbu¬dak kebebasan mereka sebagaimana diungkapkan oleh ibu Ratna diatas.
Namun jika penulis artikel ini boleh ber¬pendapat, kami punya alasan sendiri tentang sebab-sebab kenapa warga Jakarta banyak yang tertimpa penyakit gila ini. Menurut kami sebab atau alasan paling kuat perihal fenomena mening¬katnya jumlah penderita penyakit jiwa di Jakarta itu adalah karena jauhnya mereka dari pengamalan dan bimbingan agama, padahal mereka adalah orang-orang yang beragama, bahkan mayoritas beragama Islam. Tapi sayang keberagamaan mereka sebatas “KTP” be¬laka,mereka tidak mempraktekkan dan meng¬hayati ajaran agama itu sendiri. Oleh karena mereka melepaskan diri dari bimbingan agama, otomatis mereka menjadi kehilangan kendali, petunjuk, dan tuntunan dari agama. Sehingga tatkala mereka dihadapkan pada suatu prob¬lem, masalah, tantangan atau tekanan hidup, akhirnya mereka tidak dapat mengatasinya, ujungnya stress pun takdapat dihindari. Dari stres inilah biasanya yang menjadi pemicu datang¬nya penyakit jiwa. Karena tiada lagi yang membantu dan bemberi petunjuk padanya.
Fitrah Manusia Beragama
Dalam pandangan Islam, keberagamaan adalah fithrah (sesu¬atu yang melekat pada diri manusia dan terbawa sejak kelahirannya) “Fitrah Allah yang mencipta¬kan manusia atas fitrah itu.” (QS. ar-Rum [30]: 30)
Ini berarti manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama. Tuhan menciptakan demikian, ka¬rena agama merupakan kebutuhan hidupnya. Memang manusia dapat menangguhkannya sekian lama, boleh jadi sampai dengan menje¬lang kematiannya. Tetapi pada akhirnya, sebelum ruh rmeninggal¬kan jasad, ia akan merasakan kebutuhan itu.
Pada tahun 1990 Michhael Persinger seorang ahli saraf telah berhsil membuktikan tentang eksistensi God Spod (pusat spiritual) pada otak manusia, hal ini kemudian diperkuat lagi oleh V.S. Ramachandran dan timnya di Califor¬nia University pada tahun 1997, yang me¬nyatakan bahwa God Spod atau pusat spiritual ini sudah built in (menyatu) pada otak manusia. Bukti ilmiah ini membuktikan bahwa god spod memiliki tuntutan , tarikan atau gravitasi spti¬tual yang menarik jiwa setiap insan untuk terus mencari makna puncak kehidupan.[1]
Dalam diri manusia, menurut Muham¬mad Ismail, terdapat thoqoh al-hayah (daya kehi¬dupan) yang memotifasi manusia melaku¬kan perbuatan-perbuatan yang menuntut adanya pemenuhan. Potensi ini menuntut dua manifestasi. Pertama menuntut pemenuhan secara pasti. Artinya bila itu tidak dipenuhi, manu¬sia akan mati. Tuntutan jenis ini namanya al-hajah al udlwiyah (kebutuhan jasmani). Ke¬dua menuntut pemenuhan yang sifatnya tidak pasti. Artinya jika itu tidak dipenuhi tidak sam¬pai mengakibatkan kematian seseorang. Namun ia akan merasa resah-gelisah hingga kebutuhan inii terpenuhi. Itulah al-gharizah (naluri) yang aktivitasnya muncul secara alami memotivasi tuntutan pemenuhan.[2]
Jika pandangan Islam menyatakan bahwa keberagamaan adalah fitrah, yang juga kuatkan pendapat Muhammad Ismail dan peneli¬tian ilmiah oleh Michael persinger yang membuktikan tentang eksistensi god spod pada otak manusia sebagaimana diata, dikaitkan den¬gan fenomena meningkatnya jumlah penderita sakit jiwa di jakarta sebagaimana berita Jawa Pos di atas, maka teranglah bahwa pada dasar¬nya yang menjadi penyebabnya tak lain adalah karena mereka kurang memenuhi kebutuhan manusia jenis yang kedua, yaitu kebutuhan al-gharizah atau lebih mudahnya mungkin kebutu¬han spiritual, sehingga mereka rentan terserang stress dan depresi. Selama ini barang kali me¬reka hanya memikirkan akan kebutuhan per¬tama yaitu al-hajah al-‘udlwiyah atau kebutuhan jasmaniah. Mereka mungkin belum menyadari bahwa memperhatikan dan memenuhi kedua¬nya adalah sama pentingnya. Oleh karena ter¬jadi ketidak seimbangan antara pemenuhan kebu¬tuhan fisik dan spiritual ini, maka banyak bertebaran orang-orang yang berbadan sehat, subur dan segar, namun dibalik fisik yang tam¬pak prima itu ternyata rohani atau mentalnya berpenyakit yang mana resikonya sering lebih berbahanya ketimbang penyakit jasmani.
Dengan demikian pemicu stress atau depresi sebenarnya bukan lantaran alasan-ala¬san sebagaimana yang di beber oleh ibu Ratna Mardiati diatas seperti: kepadatan penduduk, tingkat kompetisi yang tinggi dan beban hidup yang berat. Sebab realitasnya gejala stress dan depresi bisa menyerang siapa saja baik si miskin atau si kaya, orang terjepit atau orang bebas, orang gagal ataupun sukses dan aneka profesi lainya. Selain itu banyak dijumpai pula kisah-kisah orang yang sukses dalam karir peker¬jaanya tetapi merasa tidak bahagia dan tak da¬pat menikmati kesuksesannya itu. Bahkan ada yang cukup tragis, seorang presiden direktur Hyundai yang meninggal secara mengenaskan, ia mati bunuh diri dengan meloncat gedung penca¬kar langit yang tinggi. Juga ada seorang top eksekutif Indonesia mati bunuh diri dengan terjun bebas dari sebuah apartemen di Jakarta berlantai 56. Memang dewasa ini berdasarkan penelitian pula Penyakit dan mental seperti itu banyak diderita oleh orang-orang modern, yang sering dinamakan spiritual pathology atau spiri¬tual illness. Coba, kurang apa mereka? Mustinya jika pemicu stres adalah melulu factor ekonomi, mereka tidak akan bunuh diri karena mereka hidup sudah serba kecukupan.
Alhasil betapapun tingginya persaingan pekerjaan dikota, betapapun berat beban hidup yang di tanggung warga ibukota, betapapun sempit dan terbatasnya lapangan ekonomi me¬reka, tapi jika mereka tetap berpegang pada tuntunan dan ajaran agama, maka itu semua tidak akan sampai merusak mental dan keji¬waan mereka. Sebaliknya walaupun seseorang dalam puncak kesuksesan dan prestasi, meski¬pun hidup serba kecukupan, kendati secara ting¬kat ekonomi tergolong menengah keatas, namun jika mereka jauh dan lepas dari bimbin¬gan dan pengamalan ajaran agama tetap saja mereka rawan dan berpotensi terkena virus stres yang biasanya menjadi mukadimah dari resiko penyakit jiwa. wallahu a’lam.
Footnote:
1. Ary Ginanjar Agustian, ESQ POWER, Sebuah Inner Journey Melalui al-Ihsan,
Jakarta, Arga, 2007, hlm. 57
2. Kaisar (Tim karya Ilmiah Santri Lirboyo 2008), Aliran-Aliran Teologi Islam,
Kediri, Purna Siswa Aliyah MHM 2008, 2008, hlm.1
Berita
Hider's
Arsip
-
▼
2009
(93)
-
▼
Juni
(30)
- Ulang Tahun ke 24
- Maafkan Aku Telah Lalai Menyapamu
- Menunggu Datangnya Penguasa Bijak
- Pemilu dan Demokrasi
- Pemimpin Afeksi dan Kognitif
- Pendekatan Ilmiah tehadap Kisah-kisah al-Quran
- Perbandingan Kursi Iman dan Kursi Ilmu
- PR Para Kiai
- Tentang Inspirasi
- Membedakan Zionisme dari Yahudi
- Jusuf Kalla dan Gerhana
- Ancaman Bagi Perkawinan Islam dan Demokrasi
- Remaja Harus Berani Menantang Masa Depan
- Ilmu Bermanfaat, Perantara Taqwa
- Lirboyo Menggebrak
- Politik Partai Islam Sesat
- Prabowo dan Kiai, Langkah Politis Atau Silaturrahi...
- Pesantren Salaf Bicara
- Epistemologi, Sebuah Pendekatan Sistematis
- Emosi Diserobot di Traffic Ligth
- Dibalik Fenomena Meningkatnya Pasien Penyakit Jiwa...
- Spirit Laskar Pelangi
- Doa Sang Alumni
- Cakrawala Hilal Patria
- Benarkah Kita Tamat Sekarang?
- “Wong Nduwuran” Dunia Wayang Yang Membosankan
- Babak Baru Kebangkitan Islam
- Plato dan Takdir
- Analisa Fikih Para Mujtahid
- Ancaman Bagi Perkawinan Islam dan Demokrasi
-
►
Mei
(39)
- Sejarah Singkat M3HM
- Kilasan Sejarah Mading Hidayah
- Dilema Musyawaroh
- Budaya Yang Bukan Tradisi
- Membela Ahmadiyyah?
- Mentradisikan Gemar Membaca
- Ketika NU Hilang
- Islam Dan Pluralisme
- Belajarlah Pada Sejarah
- Situ bin Gintung Cirendeu
- Proyeksi Idealisme Kehidupan
- Wayang, Mitos dan Sejarah
- Wanita-Wanita Permata dan Genozida Gaza
- Tong dan Sandal Jepit Penyesalan
- Thinking, For Succes
- Ilmu Yang Tidak Kudapat dan Kudapat
- Meningkatkan Kualitas Pidato
-
▼
Juni
(30)
Kamis, 11 Juni 2009
Dibalik Fenomena Meningkatnya Pasien Penyakit Jiwa
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)



0 komentar:
Poskan Komentar